Kamis, 25 Juni 2026

Dari UN ke MBG

Apakah Kita Sering Salah Membidik Akar Masalah?

Sembilan belas tahun yang lalu, saat saya SMA, untuk pertama kalinya Ujian Nasional menjadi penentu kelulusan. Saat itu saya duduk di kelas 2 SMA di Medan. Saya aktif di komunitas gereja dan cukup dekat dengan para guru serta dewasa muda yang sudah bekerja.

Saya menyaksikan hal-hal yang membuat saya marah. Ada guru yang mendapat tekanan untuk melonggarkan pengawasan ujian. Ada ancaman pengurangan jam mengajar bahkan tidak diperbolehkan mengajar jika dianggap terlalu ketat. Kunci jawaban juga diperjualbelikan demi meningkatkan peringkat sekolah.

Saya merasa jijik melihatnya.

Karena itu saya berkesimpulan bahwa Ujian Nasional adalah program yang kejam dan harus dihapuskan. Saya bahkan ikut berdemo ke DPR.

Namun seiring waktu saya mulai mengevaluasi kembali cara berpikir saya.

Kalau yang salah adalah intimidasi terhadap guru yang jujur dan penjualan kunci jawaban, mengapa yang kami tuntut justru penghapusan Ujian Nasional? Jika ujian dilaksanakan dengan jujur dan transparan, apakah keberadaan ujian itu sendiri yang menjadi masalah?

Kalau saya bisa kembali ke masa itu, mungkin saya tidak akan berdemo untuk menghapus Ujian Nasional. Saya akan menuntut transparansi, pengawasan yang lebih baik, dan konsekuensi hukum yang jelas bagi pihak yang melakukan kecurangan.

Pengalaman itu kembali teringat ketika saya melihat perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis.

Saat ini banyak kritik bermunculan: tata kelola yang buruk, dugaan korupsi, jual beli dapur, hingga kasus keracunan makanan. Kritik-kritik tersebut penting dan tidak boleh diabaikan.

Tetapi saya mulai bertanya-tanya: apakah masalah utamanya terletak pada programnya, atau pada tata kelolanya?

Jika yang menjadi persoalan adalah korupsi, mengapa solusi yang ditawarkan adalah menghapus program? Mengapa bukan memperbaiki sistem pengawasan, memperkuat akuntabilitas, memperbaiki standar keamanan pangan, dan memberikan konsekuensi yang tegas kepada pelaku korupsi?

Pertanyaan ini muncul bukan karena saya naif terhadap korupsi.

Setelah lulus kuliah, saya pernah bekerja di sebuah asrama sekolah dan menangani program pelatihan kepemimpinan. Saya diberi anggaran untuk membeli perlengkapan kegiatan.

Saat meminta nota pembelian di sebuah toko, penjual bertanya kepada saya:

"Perlu bon kosong, Kak?"

Saya bingung.

Lalu ia bertanya lagi, "Harganya mau dibuat berapa?"

Saya meminta agar nota dibuat sesuai harga sebenarnya.

Di kesempatan lain, saya melihat seorang pegawai berseragam meminta nota dengan nominal yang berbeda dari nilai transaksi yang sebenarnya. Semuanya dilakukan dengan santai seolah merupakan hal yang biasa.

Saat saya mengatakan bahwa hal tersebut termasuk bentuk korupsi dan dapat merugikan pihak toko jika terjadi audit, respons yang saya terima hanya:

"Jadi gimana ? Mereka mintanya begitu"

Kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang.

Seolah-olah praktik tersebut sudah begitu normal sehingga tidak lagi dianggap masalah.

Karena itulah saya merasa bahwa persoalan terbesar kita bukan hanya pada satu program tertentu, melainkan pada sistem yang membuat korupsi terasa nyaman dan biasa. Apakah korupsi hanya di MBG, ada korupsi pengadaan KTP, jemaah haji, proyek pemerintah dan masih banyak lagi. Kenapa kita tidak mendorong MBG lebih transparan lagi

Saya pribadi mendukung program Makan Bergizi Gratis. Bukan hanya karena aspek gizinya, tetapi juga karena potensinya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat bawah: petani, peternak, nelayan, UMKM, pekerja dapur, dan distribusi logistik.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, saya melihat kemungkinan bahwa program seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk menggerakkan permintaan domestik dan memperkuat ekonomi lokal.

Tentu program ini tidak sempurna. Mungkin perlu revisi, evaluasi, pengawasan yang lebih kuat, dan perbaikan di banyak sisi.

Pada saat kampanye program ini mendapatkan dukungan yang besar. Artinya evaluasi positif saat perencanaan program ini sangat besar. Ada harapan untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang. Kita bisa lihat evaluasi MBG di India, Jepang dan negara lain. Kita bisa belajar dari sana.

Jika kita kecewa dengan korupsi, keracunaan makanan dan pembelian  titik. Kenapa tidak kita mendorong pemerintah untuk sistem pangawasan, ruu anti korupsi bahkan hukum mati koruptor. Mengingat MBG adalah etalase yang bisa dilihat semua masyarakat.

Tidakkah sayang mimpi yang besar itu hilang karena tidak siap diperbaiki. Jika kita memilih MBG ditutup

Apakah kita sedang mengkritik program yang salah, atau sedang menghadapi masalah tata kelola yang lebih besar?

Apakah yang perlu diperbaiki adalah programnya, atau sistem yang memungkinkan penyimpangan terjadi berulang kali?

Saya tidak menulis ini karena merasa memiliki jawaban yang pasti.

Justru pengalaman saya saat menolak Ujian Nasional membuat saya lebih berhati-hati terhadap keyakinan saya sendiri.

Saya hanya bertanya-tanya:

Apakah mungkin, seperti yang pernah saya alami dulu, kita kembali sedang salah membidik akar masalah?


Minggu, 22 Juli 2018

Diluar Rencana

Banyak hal yang terjadi belakangan terjadi di luar rencana saya. Beberapa hal terjadi karena memang faktor eksternal tetapi yang lain adalah karena kelalaian. Pengalaman tersebut mengajarkan saya, apa yang paling penting adalah bagaimana setiap kita merespon setiap hal yang ada di luar rencana. Kejadian sudah terjadi, waktu tidak bisa terulang, mengeraskan diri, mengeluh dan menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Hal yang dibutuhkan adalah rencana cadangan, bagaimana meminimalisir kerugian dan fleksibilitas. Kejadian-kejadian di luar rencana tersebut juga membuat saya belajar menikmati ketidakpastian dan optimis dalam tekanan. Kejadian-kejadian tersebut juga mengajarkan untuk antisipasi dalam setiap perubahan. 

Hal ini membuat saya merenung hari ini, Bagaimana jika rencana terdalam saya tidak berjalan dengan lancar? Seolah Tuhan berkata Bagaimana jika yang akan terjadi adalah di luar rencana saya? Menangis, mengeluh dan mengeraskan diri tidak akan berhasil. Mungkin ini saatnya saya menikmati ketidakpastian dan optimis dalam tekanan. Jujur, belakangan saya menyadari bahwa saya amat tidak menyukai ketidakpastian untuk hal-hal penting, saya menyukai kestabilan dan kenyamanan. Satu ayar yang terlintasi adalah Matius 6: 25-30:

6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir 14  f  akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan g  oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? h  6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? i  6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun j  tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani 15  rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 

Rabu, 02 Mei 2018

opini

Akhirnya aku berpikir, kita tidak harus melakukan apa yang kita suka, tapi kita harus melakukan apa yang berguna...

Senin, 25 September 2017

Kasih Allah kepada Yunus

Beberapa minggu ini di sekolah minggu kami membahas tentang Yunus, seorang nabi ajaib bin aneh yang berani-beraninya lari dari Tuhan. Sejak dulu ketika saya membaca kitab Yunus, saya selalu merasa aneh dengan tingkah Yunus, nabi gak nih?????? Kok sudah tahu Tuhan harus menjadi pusat kehidupan tetapi malah ingkar? Tapi pada kenyataannya Yunus memang nabi, nabi bandel yang lari dari Tuhan.  Saya juga sedikit merasa aneh, kenapa Tuhan menunggu Yunus untuk melakukan pemberitaan injil di Niniwe. Jadi tulisan ini berisi tentang refleksi saya terhadap tindakan Yunus dan kasih Allah. Karena ini refleksi jadi sedikit subjektif, hehhehe

Cerita Yunus dibuka dengan firman Tuhan kepada Yunus berbunyi
"Datanglah firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang bersar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku" (Yunus1:1-2)

Apa yang Yunus lakukan? dia kabur bukannya ke Niniwe tetapi malah ke Tarsis. Yunus tidak rela kalau penduduk kota Niniwe selamat (Yunus 4: 1-3), Yunus pun dihukum Tuhan, dibuang ke laut dan ada di perut ikan selama 3 hari. Yunus mengaku dosa, minta ampun dan pergi ke Niniwe. Apa yang unik adalah Yunus ogah-ogahan berkotbah kepada penduduk kota Niniwe, bahkan dia menyesal berkotbah kepada mereka,karena mereka jadi selamat dan tidak dihukum. Yunus marah kepada Tuhan dalam doanya:
"Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetakan yang hendak didatangkanNya. Jadi sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup"

Yunus lebih rela mati dibandingkan Niniwe selamat. Saya berpikir mungkin sejak awal Yunus ke Tarsis dia sudah rela dihukum. Yunus mungkin memang sangat membenci Niniwe dan merasa bahwa mereka pantas dihukum. Yunus bisa jadi mengalami akar pahit kepada Niniwe. Dilihat dari sejarah, Yunus adalah Nabi dari Israel Utara, sementara kota Niniwe adalah bangsa Asyur yang begitu kejam. Israel utara dijarah  dan dihancurkan oleh bangsa Asyur. Bisa jadi dalam kejadian penghancuran tersebut Yunus mengalami penderitaan melihat Israel Utara yang hancur, kehilangan sanak saudara dan melihat penderitaan orang di sekelilingnya. Mungkin bagi Yunus, tidak adil orang yang sudah melakukan hal-hal yang mengerikan tersebut tidak mendapatkan penghukuman. Sangat sulit bagi Yunus untuk melakukan hal tersebut. Sehingga di ending kisah, Yunus 4, Yunus ngambek sama Tuhan.

Tapi Allah tidak membiarkan Yunus begitu saja. Sama seperti ketika Yunus berusaha lari ke Tarsis, Allah memberikan badai di kapal dan membuat Yunus dalam perut ikan. Allah menyadarkan Yunus akan kondisinya ketika di perut ikan, sehingga Yunus menyadari dosanya. Kali ini Allah memakai pohon Jarak untuk mengajari Yunus tentang kasihnya kepada Niniwe. 

Dalam pembacaan kitab Yunus, saya kerap kali bertanya kenapa Allah harus memakai Yunus? kenapa bukan nabi yang lain. Saya semakin menyadari Allah adalah Allah yang menginginkan setiap anak-anakNya bertumbuh, Allah tentu tahu perasaan dan pemikiran Yunus, betapa sulitnya bagi Yunus untuk pergi ke Niniwe. Tapi Allah menginginkan Yunus juga mengerti perasaan Allah kepada Niniwe, Allah juga mungkin menginginkan Yunus melepaskan kebenciannya kepada Niniwe, Allah ingin mengajarkan arti kasih kepada Yunus. Allah ingin Yunus belajar, menunggu Yunus dan mengharapkan Yunus mengasihi Niniwe. Beberapa kali Allah menunjukkan kelemah-lembutannya dengan Yunus seperti pada saat Yunus di perut ikan, bahkan dialog antara Yunus dan Allah dalam pasal yang terakhir, selayakknya orangtua yang mengajari anaknya. Awalnya saya mengira kalau Yunus tidak memiliki pengenalan yang benar tentang Allah, tetapi bisa jadi tidak. Karena dialog antara Allah dan Yunus begitu intens, bahkan Yunus mengerti maksud Allah terhadap Niniwe. Yunus sedang sulit mengalahkan keegoannya. Yunus seperti potret kondisi kita yang dalam kedagingan. 

Ada kalanya kita dalam fase kelemahan dan enggan melakukan perintah Tuhan, entah karena ketakutan, kebencian, atau apapun, fase dimana kita menyerahkan diri kepada kedagingan, karena begitu sulitnya melakukan perintah Tuhan. Allah mengetahui kondisi setiap kita pribadi. Tetapi hal yang Allah lakukan bukanlah membiarkan kita dengan luka-luka kita, rasa marah, rasa takut atau pemikiran yang menghalangi kita bertumbuh dewasa tetapi membiarkan beberapa peristiwa kehidupan kita untuk mengajarkan kita, Allah mengharapkan kita mengerti maksudnya bagi kita dan maksud Allah untuk dunia. Kadang kala begitu keras seperti badai di kapal Yunus dan kadang dengan lembut mengajarkan kita seperti kisah Yunus dan pohon Jarak. Itulah bentuk penyertaan Tuhan

Kisah ini ditutup dengan tulisan:
"Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak"(Yunus 4:10-11)

Allah bukan mengharapkan penghukuman saja kepada setiap bangsa karena dia mengasihi Yunus dan Niniwe. Dibanding penghukuman, Allah mengharapkan pertobatan. Relakah kita tidak menghakimi saudara kita dan mengasihi saudara yang tidak kita kasihi?

Jumat, 19 Mei 2017

Memilih Moiturizer untuk Kulit Berjerawat

Memilih moisturizer untuk kulit acne-prone sangat tricky. Beberapa berpendapat bahwa kulit berjerawat tidak membutuh moisturizer sama sekali karena beberapa mitos mengatakan bahwa moisturizer akan menimbulkan jerawat. Moisturizer bukan hanya digunakan sebagai untuk melengkapi rangkaian perawatan kulit yang kita miliki, tetapi merupakan hal yang amat penting. Kenapa moisturizer harus digunakan?

Beberapa bukti menunjukkan bahwa kulit berjerawat mengalami kerusakan lapisan pelindung epidermis, lapisan pelindung ini berfungsi untuk melindungi kulit kita dari bahaya dari luar (sinar matahari, debu, dll) dan menyeimbangkan kondisi kulit kita. Memang lapisan ini tidak berfungsi untuk menghilangkan jerawat kita atau memperbaiki kulit tetapi ketika lapisan ini rusak, kadar minyak dan air tidak lagi seimbang. Kulit bisa memproduksi minyak lebih berlebihan dan kadar air dalam wajah bisa berkurang. Hal ini yang menyebabkan kulit dehidrasi (kulit berminyak tetapi kehilangan kelembaban). Apa lagi bagi kamu yang mengalami jerawat dan menggunakan treatment yang biasanya mengeringkan kulit, menggunakan pembersih wajah untuk menghilangkan minyak pada wajah, menggunakan scrub pada wajah dan menggunakan astrigen yang bisa mengeringkan. Kita mengira dengan wajah yang kering jerawat tidak akan muncul padahal yang kita lakukan adalah menghilangkan kadar air pada kulit, meningkatkan produksi minyak. Minyak pada wajah bercampur dengan kotoran atau debu sehingga jerawat kita tetap muncul. Dan kita frustasi karena jerawat kita tidak hilang. Atau jerawat kita hilang karena treatment obat tetapi kulit kita tetap berminya dan anehnya terasa kering.

Kesimpulannya, moisturizer harus digunakan untuk melindungi kulit kita dan menyeimbangkan kondisi kulit kita. Penggunakan treatment jerawat harus diikuti dengan penggunaan moisturizer agar kulit tetap terlindungi. Penggunaan moisturizer yang benar dan tepat akan menjaga keseimbangan kulit dan membuat lapisan pelindung epidermis bekerja dengan baik sehingga kulit kita menjadi bersih. 

Me-moisturizer kulit dan menghidrasi kulit adalah hal yang berbeda. Menghidrasi kulit seperti memberikan kulit makanan yaitu air dengan menggunakan toner dan serum, terkhusus bagi kulit dehidrasi meningkatkan kadar air dalam kulit adalah hal yang dasar dan penting dilakukan. Akan tetapi tanpa menggunakan moisturizer, kadar air dalam wajah bisa menguap dan keluar dari kulit. Penggunaan moisturizer berfungsi untuk mengunci agar serum dan toner yang kita gunakan tidak keluar dan menguap dari permukaan kulit. Maka, moisturizer yang kita gunakan tidaklah harus yang mahal atau mengandung anti aging, tujuan penggunaan moisturizer harusnya simpel yaitu menjaga kelembapan kulit, mencegah kulit kehilangan air, dan meningkatkan kekuatan lapisan pelindung kulit.

Moisturizer haruslah oklusif yaitu mengunci kelembapan dalam kulit. Akan tetapi beberapa oklusif sangat menutup permukaan pori-pori kulit sehingga menimbulkan jerawat seperti mineral oil yang begitu tebal membuat permukaan kulit benar-benar tertutup. Untuk kulit berjerawat, kosmetik yang mengandung dimethicone akan berperan baik  kepada kulit karena noncomedogenic dan hypoallergic. Tekstur dicomethicone tidak membuat kulit terasa berminyak dan cukup ringan untuk kulit, ditambah lagi mampu mencegah kulit kehilangan kadar air.

Pengunaan botanical oil atau seed oil sebagai moisturizer bisa digunaka tetapi harus berhati-hati  tidak banyak orang yang tahu apakah seed oil seperti avocado oil, green tea oil, argan oil bisa cocok dengan kulit masing-masing. Selalu ada trial and error dalam penggunakan oil, apakah oil yang digunakan bisa diserap atau tidak? Apakah oil tersebut bersifat kering? Apakah oil tersebut cocok dengan kulit berjerawat ? atau Apakah cocok untuk kulit kamu? Akan lebih baik jika menghindari kosmetik yang yang mengandung oil. Akan tetapi apabila kamu tahu bahwa oil tersebut cocok untuk kulitmu kamu bisa menggunakannya atau mencampurnya dengan pelembabmu. Karena beberapa oil cocok untuk kulit berminyak dan berjerawat. Saya sendiri sering menggunakan rose hip oil dan mencampur dengan pelembab saya.

Pilih pelembab yang cocok untuk kulit sensitif dan tidak mengiritasi kulit, salah satu contohnya adalah essential oil dan parfum. Apalagi jika kulit kamu adalah kulit sensitif dan berjerawat, penggunaan parfum dan essential oil akan memicu alergi pada kulit.

Kita sudah berbicara tentang hal-hal dasar yang harus dilihat dalam moisturizer dan berikutnya kita berbicara tentang tambahan lain yang bisa kamu pertimbangkan ada dalam moisturizer kamu.

Akan lebih baik kalau kamu memilih pelembab yang non-comedogenic, non-acnegenic, dan hypoallergic. Kosmetik dengan label ini akan menolong kamu untuk memilih moisturizer yang tidak menutup pori-pori kulit dan tidak memperparah jerawatmu.

Pilih moisturizer dengan antioksidan, salah satu contohnya adalah vitamin E dan green tea. Jerawat dimulai dengan minyak yang teroksidasi sehingga untuk mencegahnya, antioksidan memerankan peran yang sangat penting. Pilih moisturizer dengan fungsi memperbaiki kulit seperti mengandung pegagan (centella assiatica). Moizturizer ini tidak hanya melindungi lapisan pelindung kulit tetapi juga memiliki fungsi memperbaiki kulit.. Memilih moisturizer yang memiliki Natural Moisturizing Factor, yaitu memilih beberapa ingredient yang sudah ada pada kulit kita dan kalau kita menggunakannya, zat tersebut tidak akan mengiritasi, kulit akan menoleransi penggunaannya karena zat tersebut sudah ada pada kulit kita. Penggunaan zat ini akan merestorasi dan memperbaiki kondisi kulit. Terakhir, pilihlah moiturizer yang memiliki essential fatty acid seperti linoelic acid, kulit berjerawat pada umumnya memiliki linoelic acid  yang rendah dan hal ini yang menyebabkan tingginya produksi minyak, menutup pori-pori dan menyebabkan jerawat. Penggunaan linoelic acid akan menjaga keseimbangan kulit.


diterjemahkan dengan bebas dari vlogger https://www.youtube.com/watch?v=cjETxLHdBhU dan berdasarkan pengalaman pribadi

Minggu, 26 Februari 2017

Pesan

Untuk setiap hal yang Tuhan beri ada maksud. Beberapa merupakan hal yang sangat kita inginkan. Akan tetapi, kadang bukan hal yang kita harapkan. Kita mempertanyakan pemberian itu.

Mari lihat ke belakang dan pikir lagi dalam hidup kita, adakah pemberian buruk yang Tuhan berikan?

Mungkinkah Allah memberikan sesuatu yang jahat?

Rabu, 22 Februari 2017

Suara

Ada begitu banyak suara di sekitar kita. Beberapa merupakan hal yang tak berguna didengarkan. Yang lain sangat penting dan patut dipikirkan. Ironisnya, hal yang tak berguna itu ternyata lebih menarik untuk didengarkan dan dipikirkan. Sementara hal penting itu hilang, seolah tak pernah ada.

Hari ini saya kehilangan hal yang berharga untuk sesuatu yang tak berharga.