Satu minggu ini adalah hari yang berat buat saya. berat untuk mengrjakan semua hal. Sya sudah berusaha mengerjakan bagian yang harus saya kerjakan. Tapi semua seakan sia-sia.
Saya sebagai seorang KS SMA 5 Medan sudah berusaha untuk mengajak adik-adik untuk satang Persekutuan Minggu SOre (PMS), ikut kelompok kecil dan Temu Pengurus(TP). Tapi tak berhasil. Jangankan respon yang baik, saya berulan-ulang mrngalami kekecewaan. Malu datang jam doa dengan perkembangan yang begitu sja, sementara teman ktb saya begitu diterima di sekolahnya bahkan kekurangan tenaga untuk mengerjakan sekolahnya.
Sebagai seorang BPH di Panitia Kamp Siswa Sumbagut, saya belum mendapat balasan respon dari donatur, peserta yang masih belum jelas, latihan yang banyak konflik, dan panitia yang begitu.
Sebagai seorang mahasiswa, saya merasa kesulitan dalam mencerna pelajaran. Saya merasa beban studi saya berat. Ketakutan akan IP nanti. Tugas saya yang harus mengunjungi salah satu panti jompo juga belum jelas.
Rumah saya bukannya nyaman, dengan abang yang cuek. Konflik-konflik yang ada memusingkan.
Intinya, saya merasa lelah, khawatir.
Suatu malam ketika saya merenunginya, saya bingung mau berdoa apa kepada Tuhan. Namun, sebuh lagu tiba-tiba muncul di kepala saya
Sekalipun pohon ara tidak berbunga
pohon anggur tidak berbuah
Hasil pohon zaitun mengecewakan
Sekalipun ladang tak menghasilkan
kambing domba terhalau dari kurungan
Dan tidak ada lembu sapi dalam kandang
Namun, aku akan bersorak-sorai di dalam Tuhan
Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkanku
Ini adalah mazmur yang ada di Habakuk bagian akhir, bagaimana Habakuk tetap bersukacita kala kondisi yang menyedihkan ini.
Saya menyanyikannya, saya kembali teringat untuk bersyukur akan setiap kondisi, bersyukur untuk kondisi yang bagi saya adalah horor.
Saya menyadari selagi saya masih berada dalam tangan Allah, maka sewajarnya saya bersukacita
Karena ada Allah yang akan menyelamatkan, ada saya dalam genggaman tangan Allah
dan saya belajar dari pemazmur yang tidk hanya bersyukur di kala senang tapi dia belajar bersyukur di kala sulit.
Saya kembali mengingat kasih Allah dan beriman kepada Allah. Allah menginginkan saya terbentuk dalam karakter, maka dia pun mengijinkan pencobaaan dan ujian datang. Agar saya semakin serupa dengannya.
^v^
Senin, 15 Maret 2010
Kamis, 26 November 2009
u...
kamu adalah kamu karena suatu alasan..
kamu adalah bagian dari suatu rencana yang kompleks..
kamu adalah suatu rancangan unik yang berharga dan sempurna,disebut lelaki dan perempuan khusus milik Allah..
kamu bertampang seperti kamu karena suatu alasan..
DIA merajut kamu menjadi satu di dalam kandungan..
kamu benar-benar sesuai dengan gambaran yang ingin Dia ciptakan..
Orang tua yang kamu miliki adalah orang tua yang Dia pilih,dan tidak peduli bagaimana perasaan kamu,mereka dirancang dengan pertimbangan rencana Allah dan mereka memiliki materai Allah..
trauma yang kamu hadapi tidaklah mudah..
dan Allah menangis karena trauma itu begitu menyakiti kamu,tetapi itu diizinkanNya untuk membentuk hati kamu supaya kamu bertumbuh serupa denganNya
kamu adalah kamu karena suatu alasan,
kamu dibentuk dengan tongkat Tuhan,
kamu adalah kamu,kekasih
karena Allah
by: Russell Kelfer
kamu adalah bagian dari suatu rencana yang kompleks..
kamu adalah suatu rancangan unik yang berharga dan sempurna,disebut lelaki dan perempuan khusus milik Allah..
kamu bertampang seperti kamu karena suatu alasan..
DIA merajut kamu menjadi satu di dalam kandungan..
kamu benar-benar sesuai dengan gambaran yang ingin Dia ciptakan..
Orang tua yang kamu miliki adalah orang tua yang Dia pilih,dan tidak peduli bagaimana perasaan kamu,mereka dirancang dengan pertimbangan rencana Allah dan mereka memiliki materai Allah..
trauma yang kamu hadapi tidaklah mudah..
dan Allah menangis karena trauma itu begitu menyakiti kamu,tetapi itu diizinkanNya untuk membentuk hati kamu supaya kamu bertumbuh serupa denganNya
kamu adalah kamu karena suatu alasan,
kamu dibentuk dengan tongkat Tuhan,
kamu adalah kamu,kekasih
karena Allah
by: Russell Kelfer
Senin, 09 November 2009
Marta dan Maria Luk 10:38-42
(38) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.(39) Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,(40) sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."(41) Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,(42) tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Renungan ini adalah renungan yang kudapat ketika jam doa dan renungan ini menegurku scera pribadi. Setiap hari kita selalu disibukkan oleh banyak hal kita sibuk dengan studi kita, tugas kita yang menumpuk, tugas rumah yang semakin hari bertambah banyak, apalagi kita yang melayani di gereja atau di persekutuan. Kita memiliki banyak kesibukkan, waktu 24 jam serasa tidak cukup, hari kita dipenuhi oleh banyak kegiatan, yah... kegiatan-kegiatan kita yang baik.
Hari senin sampai minggu dipenuhi dengan tugas kuliah, tugas rumah, tugas pelayanan, kita mengerjakan itu semua. Kita berjuang dengan setumpuk tugas kuliah kita dan kita berusaha mengerjakan pelayanan kita entah sebagai koodinasi suatu bagian, seksi dalam kepanitaan, pemimpin kelompok kecil atau pengurus ditengah kita masih punya peran sebagai anggota keluarga memberikan perhatian kepada keluarga dan mengerjakan semua tugas rumah kita.
Parahnya aktivitas itu terlalu menyita seluruh hidup kita, bahkan waktu pribadi kita dengan Allah, kita saat teduh tapi hanya sekedar membaca(kita berusaha menyingkatnya karena begitu banyaknya hal yang harus kita kerjakan hari ini, kita tidak fokus karena pusing dengan kerjaan kita), kita membaca firman tapi hanya sekedar melihat dan kita berdoa tapi hanya sekedar berbicara, tak jarang dalam doa kita kita hanya berbicara menyatakan betapa lelahnya kita, capek, menggerutu karena teman se-tim dalam pelayanan kita yang tidak mengerjakan bagiannya, bahkan protes pada Allah begitu banyak hal yang kita alami.
Sering merasa capek, lelah dan mengasihani diri sendiri membandingkan diri kita dengan orang lain(Tuhan, kenapa banyak sekali yang harus kukerjakan, bagaimana aku bisa kukerjakan ini semua).
apakah kita melakukan hal ini?
Sadarkah kita bahwa kita seperti Marta dalam perikop ini?????
kita sibuk dengan aktivitas kita sampai kita lupa untuk duduk, diam dan mendengarkan Allah
Tak ada yang salah dengan kesibukkan kita dalam pelayanan tapi apakah kita ingat kenapa kita melayani?
Hanya untuk Allah, bentuk penyembahan kita
apakah dengan apa yang kita lakukan sekarang benar?
Tuhan selalu menginginkan kita untuk mendengar suaraNya, mendengar Dia dalam setiap apa yang kita lakukan daripada kita sibuk melayani
Tuhan tidak marah kepada Marta kepada yang melayani tapi kenapa Marta begitu peduli kepada banyak perkara seolah-olah dia tahu yang tepat
sama seperti kita yang sibuk melayani dan melupakan waktu mendengarkan Tuhan, kita seolah-olah tahu apa yang tepat bahwa kita harus begini, bahwa kita harus begitu tanpa bertanya pada Tuhan menanyakan maksud Tuhan dalam hidup kita. Akibatnya kita kehilangan kekuatan.
Hidup kita adalah penyembahan kita kepada Allah dan untuk menyenangkan hati Allah
apakah Tuhan akan senang kalau kita melupakan Dia tapi justru sibuk dengan kegiatan kita?
apakah Anda seperti saya yang dulu pernah terjebak dalam situasi ini
jika ya mari berubah dan mari mohon ampun
Maria memilih bagian yang terbaik "duduk, diam, dan mendengarkan Allah berbicara"
Marilah kita pun dalam setiap aspek hidup kita duduk diam dan mendengarkan Tuhan berbicara dalam setiap bagian hidup kita...
Hari senin sampai minggu dipenuhi dengan tugas kuliah, tugas rumah, tugas pelayanan, kita mengerjakan itu semua. Kita berjuang dengan setumpuk tugas kuliah kita dan kita berusaha mengerjakan pelayanan kita entah sebagai koodinasi suatu bagian, seksi dalam kepanitaan, pemimpin kelompok kecil atau pengurus ditengah kita masih punya peran sebagai anggota keluarga memberikan perhatian kepada keluarga dan mengerjakan semua tugas rumah kita.
Parahnya aktivitas itu terlalu menyita seluruh hidup kita, bahkan waktu pribadi kita dengan Allah, kita saat teduh tapi hanya sekedar membaca(kita berusaha menyingkatnya karena begitu banyaknya hal yang harus kita kerjakan hari ini, kita tidak fokus karena pusing dengan kerjaan kita), kita membaca firman tapi hanya sekedar melihat dan kita berdoa tapi hanya sekedar berbicara, tak jarang dalam doa kita kita hanya berbicara menyatakan betapa lelahnya kita, capek, menggerutu karena teman se-tim dalam pelayanan kita yang tidak mengerjakan bagiannya, bahkan protes pada Allah begitu banyak hal yang kita alami.
Sering merasa capek, lelah dan mengasihani diri sendiri membandingkan diri kita dengan orang lain(Tuhan, kenapa banyak sekali yang harus kukerjakan, bagaimana aku bisa kukerjakan ini semua).
apakah kita melakukan hal ini?
Sadarkah kita bahwa kita seperti Marta dalam perikop ini?????
kita sibuk dengan aktivitas kita sampai kita lupa untuk duduk, diam dan mendengarkan Allah
Tak ada yang salah dengan kesibukkan kita dalam pelayanan tapi apakah kita ingat kenapa kita melayani?
Hanya untuk Allah, bentuk penyembahan kita
apakah dengan apa yang kita lakukan sekarang benar?
Tuhan selalu menginginkan kita untuk mendengar suaraNya, mendengar Dia dalam setiap apa yang kita lakukan daripada kita sibuk melayani
Tuhan tidak marah kepada Marta kepada yang melayani tapi kenapa Marta begitu peduli kepada banyak perkara seolah-olah dia tahu yang tepat
sama seperti kita yang sibuk melayani dan melupakan waktu mendengarkan Tuhan, kita seolah-olah tahu apa yang tepat bahwa kita harus begini, bahwa kita harus begitu tanpa bertanya pada Tuhan menanyakan maksud Tuhan dalam hidup kita. Akibatnya kita kehilangan kekuatan.
Hidup kita adalah penyembahan kita kepada Allah dan untuk menyenangkan hati Allah
apakah Tuhan akan senang kalau kita melupakan Dia tapi justru sibuk dengan kegiatan kita?
apakah Anda seperti saya yang dulu pernah terjebak dalam situasi ini
jika ya mari berubah dan mari mohon ampun
Maria memilih bagian yang terbaik "duduk, diam, dan mendengarkan Allah berbicara"
Marilah kita pun dalam setiap aspek hidup kita duduk diam dan mendengarkan Tuhan berbicara dalam setiap bagian hidup kita...
Langganan:
Postingan (Atom)